Menantang Menteri Pemuda dan Olahraga

Pasaran Togel Metrotvnews.com, Jakarta: Pembentukan Tim 9 oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrowi, yang bertugas mengevaluasi PSSI sudah diumumkan, Jumat 2 Januari 2015. Sejumlah nama-nama yang punya rekam jejak di institusi penegakan hukum dan lembaga antikorupsi, mengisi daftar anggota tim. Tentu saja pembentukan Tim 9 itu menimbulkan pro kontra. Kritik pedas pun langsung dilontarkan pengamat sepak bola, Bramono. Kepada Metrotvnews.com, Bramono tanpa bermaksud merendahkan kapasitas Tim 9, pembentukan tim menurutnya tendensius karena diiringi keterlibatan Menpora dengan para oportunis yang melontarkan wacana serampangan, Bekukan PSSI! Baca juga PSSI Berencana Rekrut Tenaga Kerja Asing Kemauan Bonekmania Bisa Terwujud, Asal . Asprov PSSI Jatim Tak Jamin Persebaya 1927 Masuk Kompetisi Brandconnect 8 Jajanan Indonesia Terlezat untuk Dicicipi Wacana Bekukan PSSI menurutnya tidak berdasar karena dimunculkan berangkat dari aksi dan hasil tim nasional. Sebagai komparasi obyektif, lanjut Bramono, apakah jika Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tak maju-maju terus NKRI harus dibubarkan atau dibekukan? Apakah jika polisi tidak mampu tangkap teroris terus lembaganya dibubarkan atau dibekukan? Cara seperti itu menurutnya sangat konyol dan tidak konstruktif. Praktisi yang konsisten membidani media olahraga di Tanah Air sejak 1986 itu intinya tak setuju dengan pembentukan Tim 9. Menurutnya di Kemenpora banyak berjejer staf ahli. Lagi pula, pembentukan Tim 9 diangapnya tidak sejalan dengan semangat debirokratisasi yang dibangun Presiden Jokowi. Presiden gencar berangus lembaga-lembaga non-struktural yang tidak efektif dan boros. Tim 9 bentukan Menpora justru membikin bengkak birokrasi dan sudah pasti berkonsekuensi dengan anggaran dan tidak reasonable . “Jika memang tulus dan murni berniat membangun prestasi sepak bola nasional, alangkah jitu dan bijak jika Menpora memanggil dan duduk bareng dengan PSSI, PT Liga Indonesia, dan elemen lain yang peduli. Bukan malah membikin jalur tandingan dengan cara subyektif dan tendesnsius,” ujarnya. “Program yang dijalani PSSI dan PT LI saat ini sebetulnya sudah on the track , meski belum berbuah maksimal karena masih dalam masa transisi yang belum genap 2 tahun setelah tercabik-cabik kisruh dan dualisme di tubuh PSSI,” kata Bramono. PSSI dan PT LI tetap perlu dikritisi, tapi bukan buat dihancurkan, tambahnya. Bramono meminta Menpora jangan cuma fokus urus sepak bola Indonesia. Masih ada masalah dualisme Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI)-Komite Olimpiade Indonesia. Belum lagi masalah Satuan Pelakasana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) yang tumpang tindih, tidak efektif dan boros. Sebaiknya, lanjut Bramono, Menpora mengevaluasi ambruknya prestasi olahraga nasional secara keseluruhan (Sea Games, Asian Games, Asian Beach Games dll). “Menpora tinggal fokus golkan political will pemerintah. Tempatkan olahraga sebagai bidang prioritas dan penting bagi NKRI, sebagai aktivitas sehat, konstruktif, bersahabat, mempersatukan, angkat derajat negara di mata dunia. Olah raga itu mengajarkan jiwa sportif, kejujuran, dan ketulusan, bahkan bisa menjadi pijakan dalam karir yang bisa menyerap tenaga kerja banyak,” tambahnya. Menpora, tambah Bramono, baru bisa dibilang keren dan cerdas jika mampu menggolkan political will itu. Membangun olahraga hebat tidak mungkin hanya dengan undang-undang, pasal-pasal atau teori-teori. Semua sudah ada, tinggal konsistensi dalam implementasinya, yang memang selama ini menjadi titik lemah di NKRI. Bramono juga menyarankan, Menpora jangan antikritik (tipis kuping), grasap-grusu dan bikin kesimpulan dangkal/prematur. Sejak menggantikan Roy Suryo, Menpora Imam Nahrowi menurutnya banyak blunder dan offside . Menpora dianggap melangkah tanpa dasar kuat dan tidak memahami back ground permasalahan. Menurut Bramono, pembentukan Tim 9 menjadi bukti terkini Menpora, yang bukan mengatasi problem dengan cara sejuk, bijak dan cerdas, tetapi malah menambah kusut masalah. Menpora justru set back karena tidak menjiwai filosofi dan akar olahraga. Cara menghadapi masalah kelompok suporter dan mafia bola pun Menpora dianggapnya tumpul, tidak rasional dan tidak konkret. (RIZ)

Sumber: MetroTVNews