Menunggu Dongeng Jilid II Leicester City

com, Jakarta: Leicester City menjadi satu-satunya wakil Inggris pada babak perempat final Liga Champions 2016 — 2017. Di luar dugaan, The Foxes mampu membalikkan prediksi berbagai kalangan yang menyebut Leicester takkan sanggup bersaing dengan tim-tim Eropa.Kecemerlangan ini memang belum puncaknya. Sebab, Leicester masih haru melewati Atletico Madrid tim dengan pengalaman lebih oke pada babak perempat final. Akan tetapi, penulis menilai, Leicester tetaplah tim penuh kejutan yang mampu memberikan warna tersendiri di Eropa.

Coba tengok sejenak perjalanan Leicester di Liga Primer. Boleh dibilang memprihatinkan. Bagaimana tidak, berstatus juara bertahan, mereka malah memble pada musim ini. Bahkan, kalau tidak buru-buru bangkit dengan meraih dua kemenangan beruntun di Liga Primer, Leicester bisa menghuni zona degradasi. Hal itu tentu menjadi menarik karena ada tim yang berada di zona merah malah tampil memukau di pentas sekelas Liga Champions.Melihat tim-tim yang lolos ke perempat final, rata-rata berada di posisi empat besar. Bahkan, Juventus menjadi tim yang tak tergoyahkan di level Serie A.Kans Leicester untuk menembus semifinal untuk pertama kalinya dalam sejarah terbuka. Motivasi pemain pasti berlipat ganda lantaran ingin membuktikan kualitas Leicester tidak sembarangan. Setidaknya, meski terseok-seok di liga domestik, mereka bisa berbicara di Liga Champions.Gara-gara kesuksesan Leicester melaju ke perempat final, netizen langsung memberikan pujian kepada Riyad Mahrez dkk. Pencapaian itu juga dibanding-bandingkan dengan Arsenal yang anjlok pada babak 16 besar.

Baca: Data dan Fakta Menarik Atletico Madrid kontra Leicester City

Perjalanan Leicester hingga ke Perempat Final
Meski formasi Claudio Ranieri tak mujarab di Liga Primer, setidaknya pelatih asal Italia itu bisa membawa angin segar di Liga Champions. Di bawah asuhan Ranieri, Leicester mampu lolos ke 16 besar.Namun, lolos ke 16 besar rasanya tidak memberikan kepuasan kepada manajemen Leicester. Pasalnya, mereka malah memberhentikan Ranieri di saat kompetisi berjalan. Sontak, situasi itu cukup membuat heboh pemberitaan. Akan tetapi, manajemen tetap pada pendiriannya dan Ranieri menerima dengan legowo.Kembali ke performa Leicester di Liga Champions, mereka terbilang mulus ke perempat final. Mereka hanya dua kali kalah yakni dari Porto dan Sevilla. Selebihnya, Leicester selalu menang.Puncaknya, ketika mereka sukses membalikkan keadaan saat menghadapi Sevilla pada leg kedua 16 besar. Membutuhkan kemenangan 1-0, mereka malah unggul 2-0 dan membuat agregat menjadi 3-2. Hal ini membuktikan, Leicester punya sengatan yang mematikan klub sekaliber Sevilla yang banyak disebut orang tim spesialis turnamen.Kini, mereka ditakdirkan bersua wakil Spanyol Atletico. Menarik disimak, bagaimana performa Leicester. Mereka akan bersua untuk pertama kalinya pada 13 April di Vicente Calderon. Lalu, pada 19 April giliran Leicester yang menjadi tuan rumah.Jika Leicester bisa konsisten dan tetap fokus, maka kedudukan akhir ketika berhadapan dengan Sevilla bukan mustahil bisa terulang.Statistik berpihak kepada Atletico
Berbicara Atletico Madrid tentu berbeda dengan Sevilla. Selain kualitas pemain dan pelatih yang berbeda, kedua tim juga mempunyai karakter serta gaya bermain yang berbeda.Menilik pertemuan Atletico dengan Leicester, mereka sudah bersua sebanyak dua kali. Pertemuan perdana terjadi di Piala Winners 1961–1962. Ketika itu, Los Rojiblancos menang dengan skor agregat 3-1. Rinciannya, Atletico ditahan imbang 1-1 di Inggris dan menang 2-0 ketika bertanding di Spanyol.Saat melakoni pertemuan kedua di Liga Europa 1997–1998, Atletico juga menang dengan skor agregat 4-1. Atletico menang 2-1 pada leg pertama di Spanyol dan menang 2-0 di Inggris.Meski kondisi tersebut sudah lama terjadi, tetap saja Leicester harus waspada. Apalagi ketika bemain di Vicente Calderon. Pasalnya, Atletico dikenal kuat ketika bermain di kandang.Salah satu resep yang bisa dijalankan Leicester ialah coba menahan gempuran Atletico di Spanyol dan tampil habis-habisan ketika bermain di Inggris. Dengan kata lain, bisa mencontoh ketika mereka menyingkirkan Sevilla.

Baca: Infografis: Adu Statistik Klub Pemain di Babak Perempat Final Liga Champions

Meneruskan buah pemikiran Ranieri
Craig Shakespeare bukan orang baru di Leicester. Menjadi asisten pelatih Leicester sejak 2011, pria 53 tahun itu sudah hafal betul kondisi Leicester.Maka tak heran, ketika ditunjuk sebagai caretaker menggantikan Ranieri, ia tidak gagap. Dari pertama kali memimpin Leicester, Shakespeare sudah melakoni tiga pertandingan. Hebatnya, semua pertandingan dilibas dengan kemenangan. Tentu pencapaian itu patut diapresiasi. Selain membawa Leicester terhindar dari zona degradasi, ia mampu meloloskan Leicester ke perempat final Liga Champions.Namun, naif rasanya jika kesuksesan Leicester di Liga Champions tidak dikaitkan dengan Ranieri. Bagaimana pun, berkat buah pemikiran Ranieri, Leicester bisa bertahan di Liga Champions. Shakespeare tinggal menruskan apa yang ditinggalkan Ranieri sambil memberikan motivasi tambahan agar para pemain mau berjuang dengan maksimal di lapangan.Selain itu, momen perempat final ini harus dimanfaatkan dengan tepat oleh Shakespeare untuk membalikkan prediksi berbagai kalangan. Sebab, penilaian situs statistik, Who Scored, Leicester mendapatkan nilai paling rendah dibandingkan dengan kontestan yang lain.Leicester bisa membuat kejuatan di Liga Primer Inggris dengan menjadi juara. Kini, menarik ditunggu apakah dongeng jilid II Leicester akan terjadi atau memang Leicester harus tersingkir dari perempat final? kita tunggu saja.Video: Drawing 8 Besar Liga Champions dan Liga Europa
(ASM)

uggssfr.com Bandar Agen Taruhan Judi Bola 88 SBOBET Online terbesar yang mempunyai pasaran sendiri, pasaran terbaik di asia. Sumber: MetroTVNews