84 Tahun Persib, Pedihnya Kehilangan Gelar Piala Presiden

Sayang, rencana untuk menyempurnakan peringatan hari bersejarah dengan memboyong lagi lambang supremasi tertinggi turnamen pramusim itu berantakan hanya sepekan menjelang pesta.
Persib gagal mempertahankan gelar setelah secara tragis disingkirkan Pusamania Borneo FC melalui drama adu penalti laga semifinal kedua di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Minggu 5 Maret 2017.
Kalah dan kehilangan gelar juara di hadapan pendukung sendiri, apalagi melalui drama adu penalti, tidak ada yang lebih menyakitkan dari itu. Wajar jika derai air mata bercucuran membasahi wajah sedih para pemain, pelatih, hinggga puluhan ribu bobotoh yang berjejal memenuhi stadion malam itu.
Namun tentunya, kegagalan menyakitkan ini layak menjadi bagian evaluasi Persib untuk segera berbenah diri agar bisa tampil dengan performa lebih baik pada kompetisi liga nanti. Bagaimanapun, sejumlah sisi minor pada performa ikut ambil bagian menyebabkan Persib tereliminasi.

Secara hasil, Persib memang menuai rekor sempurna, setidaknya hingga babak 8 Besar. Empat kemenangan diraih, sembilan gol dicetak, dengan catatan kebobolan tiga kali untuk menjejak semifinal.Namun tampak jelas, Persib tidak tampil konsisten dari satu laga ke laga lainnya. Bahkan perbedaan kualitas performa juga selalu tampak pada satu laga. Persib biasanya kepayahan pada babak pertama ketika menurunkan tiga pemain muda sesuai regulasi turnamen.
Performa mereka baru membaik setelah dua pemain senior masuk menggantikan dua pemain muda. Grafik performa Persib merosot pada babak 8 besar ketika mereka kewalahan menghadapi perlawanan ngotot Mitra Kukar sebelum akhirnya menang 3-2.
Titik nadir performa Persib tampak kentara saat dihajar 1-2 oleh Pusamania Borneo FC pada laga semifinal pertama di Stadion Segiri, Samarinda, Kamis 2 Maret 2017. Seperti diakui Pelatih Djadjang Nurdjaman, skuadnya tampil buruk. Performa terburuk Persib dalam tiga tahun terakhir, begitu bek tengah Vladimir Vujovic mendefinisikan penampilan payah Persib di Segiri.
Persib tak mampu ke luar dari tekanan, kebingungan saat menguasai bola, dan sangat tumpul dalam hal agresivitas. Parahnya, organisasi pertahanan juga amburadul menghadapi tekanan bertubi-tubi yang dilancarkan lawan. Padahal, lawan yang dihadapi adalah lapis kedua skuat Pusamania Borneo FC.
Hukuman akhirnya harus ditelan oleh Persib pada laga semifinal kedua. Meski mampu tampil lebih dominan, sangat berbeda drastis ketimbang di Samarinda, Persib nyatanya masih terlalu banyak membuang peluang. Deretan ancaman dibuat, tapi tidak sedikit eksekusi akhir yang masih mengarah atau mudah dibaca penjaga gawang. Dua peluang emas yang digagalkan tiang gawang menjadi pertanda kuat kesialan.

uggssfr.com klik365 Sumber: Pikiran Rakyat